Video Animasi Benda Langit yang Menghancurkan Bumi

| |
0 comments


Read More

Meteor Terlihat Jelas, April 2010

| |
2 comments
Sebuah pancaran bola api yang diduga meteor jatuh terekam dalam kamera Universitas Wisconsin. Meteor itu membumbung tinggi dan memancarkan sinar sekitar pukul 10 malam waktu setempat.

"Pancaran bola api meteor itu juga terlihat di Missouri, Illinois dan Iowa," kata petugas Badan Cuaca, David Sheets, di Davenport, Iowa, Jumat 16 April 2010.

Menurut dia, meskipun pancaran itu terlihat dahsyat, hingga kini belum dilaporkan adanya kerusakan akibat jatuhnya meteor itu. Gambar video itu terekam oleh Departemen Atmosfir dan Kelautan, Universitas Wisconsin.

Bola api itu melintasi langit Midwestern pada Rabu 13 April malam. Saat terjatuh dilaporkan benda itu menimbulkan getaran dan mengaktifkan alarm yang dimiliki penduduk setempat.

Penduduk lokal melaporkan, mereka melihat cahaya bola api yang luar biasa benderang di langit. Tetapi, petugas setempat belum bisa memastikan lokasi jatuh benda itu.

"Sebelum benda itu mencapai bumi, benda itu pecah menjadi beberapa bagian kecil," ujar David. Saat benda itu menghujam bumi, sempat terjadi beberapa ledakan sonik.





Hingga kini belum bisa dipastikan asal benda itu. Apakah berasal dari hujan meteor yang sedang terjadi di Bumi? Atau berasal dari puing-puing benda langit astronot di atmosfir. (Associated Press)
Read More

Percobaan Hukum Hooke

| |
6 comments
Tujuan
Menentukan hubungan anatara gaya yang bekerja pada pegas dan perpanjangan pegas

Dasar Teori
Bila sebuah benda diregangakan oleh gaya, maka panjang benda akan bertambah. Panjang atau pendeknya pertambahan panjang benda tergantung pada elastisitas bahan dari benda tersebut dan juga gaya yang diberikannya. Apabila benda masih berada dalam keadaan elastis ( batas elastisitasnya belm dilampaui), beradasarkan hukum Hooke pertambahan panjang sebanding dengan besar gaya F yang meregangkan benda. Asas ini berlaku juga bagi pegas heliks, selama batas elastisitas pegas tidak terlampaui.


Alat dan Bahan

1. Dasar Statif (1 buah)
2. Batang Statif, 500 mm (1 buah)
3. Batang statif, 250 mm (1 buah)
4. Bosshead, universal (1 buah)
5. Beban bercelah dan bergantung (1 buah)
6. Pasak pemikul (1 buah)
7. Pegas helik, 25N/m (1 buah)
8. Mistar (1 buah)

Langkah Percobaan
1.Susun alat percobaan seperti yang terlihat pada gambar berikut:
2. Gantung satu beban pada ujung bawah pegas. Nilai ini adalah berat awal untuk pegas. Catat dalam tabel pengamatan.
3. Ukur panjang awal pegas . Agar tidak membingungkan, ukur panjang pegas dari suatu titik tetap teratas (misalnya tepi pasak pemikul) ke suatu titik tetap terbawah (misalnya ujung bawah pegas). Catat dalam tebel pengamatan.
4. Tambahkan satu beban pada beban awal tadi dan ukur panjang pegas l seperti pada langkah percobaan ke 3. Catat berat total beban (w) dan panjang (l) pada tebel pengamatan)
5. Ulangi langkah langkah perobaan ke-4 dan lengkapi tabel data pengamatan berikut ini!
6. Buat grafik
7. Bagaimana bentuk grafik yang dihasilkan? Kemiringan garis pada grafik tersebut menunjukan apa? Berapa konstanta pegas berdasarkan eksperimen tersebut? Bandingkan hasilnya dengan literatur
8. berikan kesimpulan anda
Read More

Pembentukan berkas sinar istimewa pada lensa cembung

| |
0 comments

Tujuan: untuk mengetahui pembentukan tiga sinar istimewa.

Teori

Bayangan yang dibentuk oleh lensa dapat dibentuk dari tiga sinar istimewa. Ketiga sinar istimewa tersebut diantaranya.

Sinar datang sejajar sumbu utama lensa dibiaskan melalui titik focus aktif F1 dibelakang lensa.

Sinar datang melalui titik focus F2 didepan lensa dibiaskan sejajar sumbu utama.

Sinar datang melalui titik pusat optic diteruskan tanpa dibiaskan.

Hanya dua sinar yang dibutuhkan untuk membentuk bayangan benda.

Alat dan bahan

Kotak cahaya

Catu daya

Kertas ukuran A4

Model lensa plan-konveks

Diafragma 1 dan 3 celah

Kabel penghubung

Langkah-langkah percobaan

Gambarlah dua buah garis saling tegak lurus melalui tengah-tengah kertas A4.

Letakkan lensa plan-konveks di atas kertas pada persilangan kedua garis.

Gunakam kotak cahaya untuk menghasilkan 3 sinar sejajar dengan memasukkan diafragma 3 celah pada pemegang celah kotak cahaya dan hubungkan ke catu daya.

Nyalakan catu daya.

Sinar dari kotak cahaya harus terlihat jelas di atas kertas, jika dibutuhkan atur posisi lensa kondensor kotak cahaya untuk mendapatkan sinar sejajar yang baik.

Amati berkas sinar setelah dibiaskan oleh lensa.

Tentukan titik focus lensa seperti percobaan sebelumnya. Tentukan titik focus pasif lensa dengan mengambil jarak yang sama dari lensa terhadap titik focus aktif lensa.

Gantilah diafragma 3 celah dengan diafragma 1 celah.

Atur kedudukan kotak cahaya seperti pada gambar.

Singkirkan lensa kemudian gambar berkas sinar yang meninggalkan lensa.

Ulangi langkah 1-9 dengan menggunakan kertas A4 yang berbeda.

Read More

Pembiasan cahaya pada lensa cembung

| |
0 comments

Tujuan: untuk memahami sifat-sifat pembiasan pada lensa cembung

Teori

Lensa adalah benda tembus cahaya yang dibatasi dua permukaan lengkung atau salah satu lengkung yang lainnya datar. Permukaan lengkung biasanya berbentuk sferis. Tiap permukaan lengkung memiliki pusat kelengkungan lensa. Bila lensa memiliki dua permukaan lengkung maka lensa tersebut memiliki dua pusat kelengkungan kecuali untuk lensa dengan salah satu permukaan datar. Garis yang melewati pusat kelengkungan lensa disebut sumbu utama lensa. Untuk lensa plan-konveks sumbu utama adalah garis yang melewati pusat kelengkungan lensa dan tegak lurus permukaan datar lensa. Garis lain yang melewati pusat lensa disebut sumbu bantu atau sumbu sekunder.

Alat dan Bahan

Kotak cahaya

Catu daya

Kertas putih A4

Model lensa setengah lingkaran

Diafragma 1 dan 3 celah

Kabel penghubung

Model lensa datar-cekung

Penggaris

Langkah-langkah percobaan

Letakaan lensa plan-konveks di atas kertas kemudian gambarlah bentuk lensa tersebut dengan cara menjiplak permukaan lensa tersenut.
Gambarlah sumbu utama.
Gunakam kotak cahaya untuk menghasilkan 3 sinar sejajar dengan memasukkan diafragma 3 celah pada pemegang celah kotak cahaya dan hubungkan ke catu daya.
Arahkan sinar pada model lensa plan-konveks sedemikian sehingga sinar sejajar dengan sumbu utama dan sinar kedua berimpit dengan sumbu utama.
Perhatikan berkas sinar sebelum dan sesudah dibiaskan oleh lensa.
Tandai kemudian gambarlah posisi lensa dan berkas sinar sebelum dan setelah melewati lensa.
Apakah sinar yang melewati lena mengumpul atau menyebar ke satu titik?
Titik dimana sinar sejajar sumbu utama mengumpul atau terlihat berasal dari titik tersebut dinamakan titik focus lensa. Jarak antara pusat lensa dan titik focus disebut jarak focus lensa.
Jika sinar mengumpul pada satu titik, titik focus dinamakan titik folus nyata. Jika sinar bias seolah-seolah berasal dari satu titik, titik focus ini disebut titik focus maya.
Berilah label pada titik focus dengan huruf F.
Berilah tanda pada pusat lensa dengan huruf O.
Ukurlah jarak OF kemudian tuliskan pada tabel di bawah ini.
Ulangi langkah 5 sampai 9 dengan menggunakan dua lensa plan-konveks dan lensa setengah lingkaran.
Lensa Jarak focus
Lensa plan-konveks
Lensa bikonveks (dua lensa plan-konveks saling membelakangi)
Model lensa setengah lingkaran

Lihat artikel sebelumnya tentang "Pembiasan cahaya pada lensa cembung"
 

Read More

Pembiasan pada bidang batas udara ke kaca

| |
0 comments

Tujuan : untuk menghitung indeks bias kaca

Alat dan bahan

Kotak cahaya

Diafragma celah tunggal


Catu daya
Kertas A4
Kaca planparalel
Kabel penghubung
Penggaris
Busur derajat
Langkah-langkah percobaan

Siapkan sehelai kertas A4, kemudian buat dua garis tegak lurus di tengah-tengah kertas.

Buatlah garis-garis dengan sudut 200, 300 , 400 , 500 , 600 dengan garis sumbu PQ pada kertas itu.
Letakkan kaca planparalel seperti pada gambar. Buatlah titik tengah permukaan dengan kaca dengan titik Q yaitu titik potong kedua garis pada kertas atau titik O dan gambar kaca planparalel tersebut dengan menjiplak permukaannya di atas kertas.
Gunakan kotak cahaya untuk sinar sejajar yakni dengan memasukkan diafragma celah tunggal pada pemegang celah diafragma. Letakkan seperti pada gambar dan pilih tegangan keluaran catu daya 12 V.
Ubahlah kedudukan kotak cahaya dengan memutarnya sampaisinar datang berimpit dengan garis yang memiliki kemiringan 200 terhadap PO, sehingga membuat sudut datang sama dengan 200.
Buatlah garis normal pada titik sinar datang kedua (permukaan belakang kaca) kemudian beri tanda dengan huruf "n". kemudian buatlah dua buah tanda pada sinar bias di luar kaca untuk menunjukkan arah sinar bias.
Gambarlag garis luar kaca kemudian pindahkan kaca.
Gambarlah garis bias di belakang kaca menggunakan tanda yang telah dibuat.
Ukurlah sudut bias r1, sudut datang pada permukaan kedua i2 , dan sudut bias pada permukaan luar r2 (lihat gambar berikutnya). Tulis hasilnya pada kolom di bawah ini.
Ulangi langkah 5 sampai 9 untuk sudut datang (i2) yang berbeda.
i1r1i2r2sin i1sin r1sin i2sin r2sin i1 / sin r1sin i2 / sin r2
200
300
400
500
600

 

sin i1 / sin r1 disebut indeks bias medium dimana sinar dibiaskan relative terhadap medium sumber sinar berasal.

Read More

Percobaan Hukum Ohm

| |
3 comments
Tujuan Percobaan
Mempelajari hubungan antara tegagan dan kuat arus yang mengalir dalam sebuah rangkaian.

Dasar Teori

Dalam arus listrik terdapat hambatan listrik yang menentukan besar kecilnya arus listrik. Semakin besar hambatan listrik, semakin kecil kuat arusnya, dan sebaliknya. George Simon Ohm (1787-1854), melalui eksperimennya menyimpulkan bahwa arus I pada kawat penghantar sebanding dengan beda potensial Vyang diberikan ke ujung-ujung kawat penghantar tersebut:

Besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar tidak hanya bergantung pada tegangan, tetapi juga pada hambatan yang dimiliki kawat terhadap aliran elektron. Kuat arus listrik berbanding terbalik dengan hambatan:

Dengan demikian, arus I yang mengalir berbanding lurus dengan beda potensial antara ujung-ujung penghantar dan berbanding terbalik dengan hambatannya.
Pernyataan ini dikenal dengan Hukum Ohm, dan dinyatakan dengan persamaan:

Diagram hukum Ohm:

Alat dan Bahan yang Diperlukan

1. Voltmeter 10V DC, 1 buah

2. Amperemeter 100mA, 1 buah

3. Kabel penghubung merah, 3 buah

4. Kabel penghubung hitam, 3 buah

5. Hambatan tetap 100 atau bisa juga diganti dengan lampu yang sesuai. (1 buah)
6. Papan rangkaian
7. Potensiometer 50 atau bisa juga menggunakan rheostat (hambatan geser) (1buah)
8. Saklar satu kutub (1 buah)
9. Jembatan penghubung (1 buah)
10. Catu Daya (1 buah)
11. Baterai (cadangan, 3 buah)

Langkah-langkah Percobaan
1. Persiapkan peralatan / komponen sesuai dengan daftar di atas.
2. Buat rangkaian seperti pada gambar berikut:
Perlu diperhatikan:
# saklar dalam posisi terbuka (posisi 0)
# Hubungkan catu day ke sumber tegangan. Catu daya harus masih dalam keadaan off. Pilih tegagan keluaran 3 volt DC
# Hubungkan rangkaian ke catu daya (gunakan kabel penghubung)
3. Hidupkan catu daya (on) kemudian tutup saklar S.
4. Atur Rheostat atau potensiometer sehingga voltmeter menunjukan tegangan sekitar 2 volt, kemudian baca kuat arus yang mengalir pada amperemeter dan catat hasilnya ke dalam tabel hasil pengamatan.
5. Atur lagi potensiometer sehingga voltmeter menunjukan tegangan sedikit lebih tinggi dari 2 volt, baca kuat arus pada amperemeter dan catat hasilnya ke dalam tabel hasil pengamatan.
6. Ulangi langkah 5 sebanyak 3 kali.
7. Buatlah grafik V sebagai fungsi dari I.
8. Bagaimana bentuk grafiknya?
9. Apa kesimpulan anda?
Read More

Pembiasan Cahaya pada Lensa Cembung

| |
34 comments
Lensa cembung memiliki bagian tengah yang lebih tebal daripada bagian tepinya. Sifat dari lensa ini adalah mengumpulkan sinar sehingga disebut juga lensa konvergen.


Dari gambar di atas terlihat bahwa sinar bias mengumpul ke satu titik fokus di belakang lensa. Berbeda dengan cermin yang hanya memiliki satu titik fokus, lensa memiliki dua titik fokus. Titik fokus yang merupakan titik pertemuan sinar-sinar bias disebut fokus utama () disebut juga fokus aktif. Karena pada lensa cembung sinar bias berkumpul di belakang lensa maka letak nya juga di belakang lensa. Sedangkan fokus pasif ()simetris terhadap . Untuk lensa cembung, letak ini berada di depan lensa.
Sinar Istimewa Pada Lensa Cembung
Ada tiga tiga sinar istimewa pada lensa cembung.
1. Sinar sejajar sumbu utama dibiaskan melalui titik fokus F.
2. Sinar melalui F dibiaskan sejajar sumbu utama

3. Sinar melalui pusat optik tidak dibiaskan.
Langkah-langkah pembentukan bayangan pada lensa.

1. Lukis dua buah sinar istimewa (agar lebih sederhana gunakan sinar istimewa pada poin 1 dan 3)
2. Sinar selalu datang dari depan lensa dan dibiaskan ke belakang lensa. Perpanjangan sinar-sinar bias ke depan lensa dilukis sebagai garis putus-putus.
3. Perpotongan kedua buah sinar bias yang dilukis pada langkah 1 merupakan letak bayangan. Jika perpotongan didapat dari sinar bias, terjadi bayangan nyata, tetapi jika perpotongan didapat dari perpanjangan sinar bias, bayangan yang dihasilkan adalah maya.

Contoh:


Sifat bayangan: Nyata, terbalik, diperbesar.


Untuk letak benda pada ruangan lainnya anda bisa menggambarnya sendiri dengan memanfaatkan ketiga sinar istimewa yang telah dipaparkan di atas. Begitu juga dalam menentukan sifat bayangannya. Lihat contoh pada animasi di atas.

Selain dengan melukis bayangan , kita juga dapat menentukan sifat bayangan dengan menggunakan metode penomoran ruang berdasarkan aturan Esbach

Dalil Esbach untuk lensa:
Seperti pada pemantulan cahaya, pada pembiasan cahaya juga digunakan dalil Esbach untuk membantu Anda menentukan posisi dan sifat-sifat bayangan yang dibentuk oleh lensa positif. Untuk lensa nomor ruang untuk benda dan nomor ruang untuk bayangan dibedakan. Nomor ruang untuk benda menggunakan angka Romawi (I, II, III, dan IV), sedangkan untuk ruang bayangan menggunakan angka Arab (1, 2, 3 dan 4) seperti pada gambar berikut ini:

Seperti tampak pada gambar 30 untuk ruang benda, ruang I antara pusat optik dan F2, ruang II antara F2 dan 2F2 serta ruang III di sebelah kiri 2F2, sedangkan ruang IV benda (untuk benda maya) ada di belakang lensa. Untuk ruang bayangan, ruang 1 antara pusat optik dan F1, ruang 2 antara F1 dan 2F1 serta ruang 3 di sebelah kanan 2F1, sedangkan ruang 4 (untuk bayangan maya) ada di depan lensa.
Sama seperti pada pemantulan cahaya pada cermin lengkung, posisi bayangan ditentukan dengan menjumlahkan nomor ruang benda dan nomor ruang bayangan, yakni harus sama dengan lima. Misalnya benda berada di ruang II, maka bayangan ada di ruang 3. Lengkapnya dalil Esbach untuk lensa dapat disimpulkan sebagai berikut.

Dalil Esbach
1.
2.
Jumlah nomor ruang benda dan nomor ruang bayangan sama dengan lima.
Untuk setiap benda nyata dan tegak:
 
a.

b.
Semua bayangan yang terletak di belakang lensa bersifat nyata dan terbalik.
Semua bayangan yang terletak di depan lensa bersifat maya dan tegak.
3.
Bila nomor ruang bayangan lebih besar dari nomor ruang benda, maka ukuran bayangan lebih besar dari bendanya dan sebaliknya.
Contoh:
Sebuah benda diletakkan pada jarak 25 cm di depan sebuah lensa positif yang fokus utamanya 10 cm. Tentukan sifat-sifat bayangan yang terbentuk!
Penyelesaian:
Dari data soal dapat disimpulkan bahwa benda diletakkan di ruang III, yakni di suatu titik antara 2F dan dan tak terhingga (lihat gambar 30 di atas). Oleh karena jumlah nomor ruang benda dan nomor ruang bayangan harus lima, berarti bayangan ada di ruang 2 (di belakang lensa). Jadi, sesuai dengan dalil Esbach sifat bayangan adalah nyata dan terbalik (karena di belakang lensa) serta diperkecil (nomor ruang bayangan lebih kecil dibandingkan nomor ruang benda).

Sumber:
Foster, Bob. 2004.  Terpadu Fisika SMA untuk Kelas X Semester 2.Jakarta: Erlangga
www. en.wikipedia.org 
www. 125.163.204.22/e_books/modul_online/fisika/MO_90/kb3_5.htm 
 

Read More

Physics Test Practice Book

| |
1 comments


"Lebih baik bercucuran keringat ketika latihan daripada bercucuran darah ketika perang"


Pribahasa yang menyeramkan... Ini saya dengar dari temen saya yang menjadi tentara. Menurut saya secara teoritis kalo ingin berhasil ya harus seperti itu, tapi kalo hasil kita serahkan kepada Allah SWT. Wilayah kita kan hanya pada daerah proses. So, selain banyak berlatih kita juga harus banyak berdo'a dan beramal ibadah.

Kita pinjam pribahasa di atas untuk digunakan dalam kehidupan kita. Kita mulai dengan pelajaran fisika. Dari penelusuran di dunia maya, saya menemukan buku latihan tes fisika. Penasaran? Langsung aja ke TKP...

Klik link berikut:

== Physics Test Practice Book ==

Jangan lupa kasih komentar ya.. Biar blog ini menjadi semakin rame.. he he.. Kalo masalah klik iklan c terserah anda.. Peace ah...
Read More

Soal - soal SAR (Standards, Assessment & Reporting)

| |
0 comments
Setiap keli kita belajar fisika baik di sekolah maupun di tempat kuliah pastinya kita sering bertemu dengan soal-soal fisika.. ya iyalah kan sedang belajar fisika masa soalnya Bahasa Sunda.. Ketika menghadapi soal-soal itu responnya bermacam-macam ada yang merasa tertantang, ada yang rajin mengerjakan (lumayan untuk menambah nilai), males (ah kalo mau dikumpulin mah nyontek aja ke temen), ada yang bosan (ih c bapak/ibu buat apa sih ngasih soal kaya gini. Musingin aja..), dll.

Kalo soal-soal produk lokal mungkin sudah biasa, yuk kita coba tengok soal-soal yang berasal dari luar sana. Kita lihat apakah soal-soalnya lebih mudah atau bahkan lebih susah.. Setelah dilihat dan dicoba untuk dikerjakan... coba kasih komentar ya.. (boleh dikomentari di postingan ini saja).. Oke...

Daripada banyak bercuap-cuap, yuk kita langsung tengok soal-soalnya!


Physics Examination June 2009

Physics Examination January 2009

Physics Examination June 2008

Physics Examination January 2008

Physics Examination June 2007


Physics Examination January 2007

Physics Examination June 2006

Physics Examination January 2006

Physics Examination June 2005

Physics Examination January 2005


Physics Examination June 2004


Physics Examination January 2004

Physics Examination June 2003

Physics Examination January 2003
Read More

Eureka! Episode 8 - Work

| |
0 comments
Read More

Eureka! Episode 7 - Weight vs. Mass

| |
0 comments
Read More

Eureka! Episode 6 - Gravity

| |
0 comments
Read More

International Conference on Teacher Education "Redesigning Professional Teacher Education"

| |
0 comments
Rationale

The implementation of Law No. 14/2005 on Teachers and Faculty members, has been posing Teacher Education program across Indonesia with serious challenges and problems especially in regard with how to prepare the best teachers for school across the country. Those challenges are considered so fundamental as to make all teacher education institutions in the country to reform its design on teacher education program. To respond those challenges, the most critical tasks of teacher education institutions is not merely to review and to reevaluate their programs, but to redesign the whole model of teacher education which ensure the attainment of a high standard of teacher quality to meet the national demands. It seems true that the key concept is not to equip the teacher with a couple of basic competency but to enhance teacher quality with a high capability to reflect the whole processes of teaching and learning.

We have engaged in fierce debate for many decades regarding the best model swinging between the two approaches: concurrent and consecutive approach. The debate is also around a predominant nature of a teacher quality whether a teacher should master content knowledge or pedagogical knowledge. To respond this issue, it is too often that we have also been trapped in "common sense" in making the policy as a guideline due to the lack of scientific findings regarding teacher education. For this reason a central concern is how to fill the gap between policy and research in order to overcome the fragmentation characterizes the experiences of learning by creating structurally and conceptually coherent program that will result in more powerful learning for prospective teachers. Conceptual coherence might include entwining theory and practice purposefully and deliberately, and strengthening linkage between program structure and program content. Structural aspect of coherence might include organizing and aligning courses and student teaching placement around a particular conception of teaching and learning in an effort to construct an integrated experience.

We also aware that career of teacher should be developed through a long process as a life cycle so the improvement of teacher quality could be put in a framework: comprehensive, integrative and continuous starting from student selection for entering teacher education program, the recruitment of teachers entering the teaching profession to retirement.

Theme : "Redesigning Professional Teacher Education"

Date : 6-8 April 2010

Venue : JICA, FPMIPA Building, Universitas Pendidikan Indonesia,
Jl. Dr. Setiabudhi 229, Bandung 40154 West-Java Indonesia.


Objectives

The conference is aimed to attain the objectives:


1. To review a basic and essential philosophical foundation of teacher education by taking into consideration socio-cultural context of education;

2. To thoroughly and critically analyze a current situation on teacher education related to policy, rules and regulation, including management and program structure and content by using most relevant information as reference for developing teacher education;

3. To redesign a new model of teacher education programs which ensure the integration between content knowledge and pedagogical knowledge as a solution to current challenge in preparing the best teachers of the 21st century in Indonesia.



Participants

Participants consist of experts from overseas: America, Australia, Japan, China, Korea, Hong Kong, the Netherlands, France, and Germany.

From Indonesia, participants consist of primary stakeholders of teacher education, comprising:


* Rector and Vice Rector for Academic Affairs of state and private universities which have mission and program of teacher education;

* Dean of FKIP;

* Head of Provincial Office of Education (Kepala Dinas Pendidikan);

* Commission X of House of People's Representatives (Komisi X DPR RI);

* School principals of SMA and SMK;

* Academic staff from UPL



Topics:


1. Philosophical foundation of teacher education
This topic discusses the concept of teacher quality related to the demands of national development: by taking into consideration the multi-cultural context of education, ideology and politic, and other important factors which ensure the improvement of teacher quality for achieving a high standard of education. Keynote speaker: Prof. Dr. Soedijarto.

2. Policy, rules and regulations of teacher education
This topic discusses the role of public policy of teacher education as a guideline for achieving its missions, abiding by rules and regulations of certification, appointment, and professional development which ensure the achievement of a high standard of teacher education.Keynote speaker: Margaret (Peg) Sutton, Ph.D. (Indiana University).

3. Structure program and contents of teacher education
This topic discusses the issue of conceptual coherence between content knowledge and pedagogical knowledge, including the sequence of curriculum. Keynote speaker: Marylin Johnston-Parsons (University of Illinois)

4. Improving the effectiveness of clinical experience
This topic discusses the issue how to improve the quality of clinical experiences, including the role of teacher candidate, academic staff of university, and cooperating teacher. Keynote speaker: Tine Sloan, Ph.D. (University of California Santa Barbara)

5. The process of teacher certification and quality assurance of teacher education
This topic discusses the issue how to facilitate the process of clinical experience and professional development for teacher certification and quality assurance of teacher education. Keynote speaker: Kerry John Kennedy, Ph.D. (Hong Kong Institute of Education-HKIEd)

6. Professional development for in-service teacher
This topic duscusses the issue how to enhance the quality of strategic and academic leadership of in-service teacher which ensure the attainment of a high standard of school quality. Keynote speaker:Lucila T Rudge, Ph.D. (Ohio State University).

7. Management and organization of teacher education and professional development
This topic discusses the issues of organization and management of resources, including financial support for teacher education. Keynote speaker: Sue Dechow, Ph.D. (Ohio State University).

8. The role of research for improving teacher education
This topic discusses the role of researcher community to develop public policy on teacher education, and other matters related to services in school for enhancing a high quality of education. Keynote speaker: Joachim Dittrich, Ph.D.
Waktu : 6-8 April 2010
Lokasi : JICA, FPMIPA Building, Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudhi 229 Bandung 40154 West-Java, Indonesia
Read More

Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Beasiswa Bidik Misi UPI 2010

| |
0 comments
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada tahun akademik 2010/2011 memberi kesempatan kepada lulusan SMA/MA/SMK tahun 2010 yang berprestasi namun orang tua/walinya memiliki keterbatasan ekonomi untuk menjadi mahasiswa baru UPI melalui jalur beasiswa Bidik Misi UPI.
Bagi peserta yang sudah mendaftarkan diri pada PMDK UPI 2010 yang orang tua/walinya memiliki keterbatasan ekonomi secara otomatis akan disertakan dalam seleksi Beasiswa Bidik Misi. Bagi mereka yang masuk dalam kategori ini dimohon mengirimkan dokumen Kartu Keluarga Miskin atau Surat Keterangan Miskin dari Kecamatan setempat yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Waktu Pendaftaran :
Paling lambat tanggal 15 April 2010 (dokumen diterima Direktorat Akademik UPI)

Seleksi :
Berdasarkan dokumen seperti yang tertera pada Panduan Beasiswa Bidik Misi

Pelaksanaan Tes Keterampilan/Kesehatan :
Tanggal 24 s.d 25 April 2010

Tempat Pendaftaran :
Direktorat Akademik UPI Kampus Bumi Siliwangi
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung
Read More

Thinking patterns that help create new ideas.

| |
0 comments
* Explore new ideas and learn to become flexible in your thinking.
* Practice visualization -- learn how to create concept maps, illustrative schema, and sketch ideas out.
* Explore other fields looking for new theories and ideas that can be synthesized and adapted.
* Keep a record of your explorations. Keep an "Idea Journal"
* Learn to think in possibilities -- diverge, be expansive in your thinking. Generate lots of ideas, then refine them.
* Practice trying to look at things holistically and try to get the big picture.
* Learn to focus in on parts of a problem, then come back out to the big picture.
* Don't get in a rut. Force yourself to try new things. Experiment with new strategies and play with ideas imaginatively.
* Think of yourself as an "idea artist" or an "idea vendor."
* Combine ideas. Let ideas and thoughts ferment and percolate, "sleep on it", and then revisit the the issue or problem.
* Take time to imagine new ideas and possibilities. Practice daydreaming and visionizing.
* Look for ideas and inspiration in ordinary places. Scan books, magazines, articles, advertisements & photos for new ideas.
* Ask family members, friends, co-workers and even strangers for a fresh perspectives.
* Brainstorm and free associate frequently.
* Free yourself from "functional fixity" or restrictively thinking of something only in one way. Creative thinking is often blocked by not being able to think about items in new contexts or new ways.
* Divest yourself of "cultural or gender mindsets" that may limit your thinking.
* Examine your thinking for barriers like "toxic nostalgia" -- letting grandiose or overly romanticized visions of the past block new ideas.
Read More