Showing posts with label Model Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Model Pembelajaran. Show all posts

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

| |
0 comments
Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) 


Pembelajaran berbasis masalah (PBM) yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan problem based learning (PBL) merupakan hasil penelitian Barrow dan Tamblyn yang pertama kali diterapkan pada pendidikan kesehatan di Universitas McMaster, Kanada, pada tahun 1960-an (Barret, 2005: 13). Berikut ini merupakan beberapa definisi tentang pembelajaran berbasis masalah:

  1. Barrow (1980) (Barrett, 2005: 14) mendefinisikan PBM sebagai “The learning that results from the process of working towards the understanding of a resolution of a problem. The problem is encountered first in the learning process.”
  2. Kreger (1995) mendefinisikan pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut:  “Problem-Based Learning (PBL) is an instructional methodology that uses real-world contexts for in-depth investigations of a subject matter. PBL activities start with an ill-structured problem that serves as a springboard to team engagement. “
  3. Duch (1995) mendefinisikan pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut: “Problem-based learning (PBL), at its most fundamental level, is an instructional method characterized by the use of "real world" problems as a context for students to learn critical thinking and problem solving skills, and acquire knowledge of the essential concepts of the course.”

Dari beberapa definisi di atas, dapat dikatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang diawali dengan penyajian masalah yang kontekstual dan tidak sederhana kepada siswa sehingga memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menemukan pengetahuan konsep esensial dari materi ajar.


Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah

Dalam surat kabar pembelajaran Speaking of Teaching, Universitas Stanford (2001: 1-2), dibahas beberapa karakteristik pembelajaran berbasis masalah yang dapat disarikan sebagai berikut.
  1. Wilkerson and Gijselaers (1996) claim that PBL is characterized by a student-centered approach, teachers as “facilitators rather than disseminators,” and open-ended problems (in PBL, these are called “ill-structured”) that “serve as the initial stimulus and framework for learning” (pp. 101-102). Students should identify their learning needs, help plan classes, lead class discussions, and assess their own work and their classmates’ work (Gallagher, 1997; Reynolds, 1997). “Students develop a deeper awareness and ownership of important concepts in the course by working on activities, a basic tenet of the constructive approach to learning” (Seltzer, et al., 1996, p. 86). In addition to emphasizing learning by “doing,” PBL requires students to be metacognitively aware (Gijselaers, 1996).
  2. Groupwork is also an essential aspect of PBL for several reasons. First, groupwork helps develop learning communities in which students feel comfortable developing new ideas and raising questions about the material (Allen, Duch, & Groh, 1996). In addition, groupwork enhances communication skills and students’ ability to manage group dynamics. Finally, groupwork is interesting and motivating for students because they become actively involved in the work and are held accountable for their actions by group members (Cohen, 1994).
  3. As noted, in PBL literature the term “ill-structured” isused to describe open-ended problems that have multiple solutions and require students “to look at many methods before deciding on a particular solution” (Shelton & Smith, 1998, p. 21). Educationally sound, ill-structured problems “help students learn a set of important concepts, ideas, and techniques” (Gallagher, 1997, p. 338) because they provoke group discussion and give students experience solving problems encountered by experts in the field.

Selain itu, Higgs (Barrett, 2005: 37) menuliskan perbedaan antara permasalahan pada  problem solving dan problem based learning yang diungkapkan oleh Terry Barrett sebagai berikut.
One of the most important points about problems in Problem-based Learning is that it is not a question that first the students recieve inputs of knowlwdgw e.g. lecture, practicals, handouts, etc., and then “apply” this knowledge to a problem they are presented with later in the learning process. This type of a situation is not Problem-based Learning it is problem solving (Savin-Baden 2000). It is like making a cake when you have already been given the recipe and all the ingredients. One of the defining characteristics of the use in Problem-based Learning is that students are deliberately presented with the problem at the start of the learning process. This is like getting the challenge of preparing a celebratory meal for a special occasion where no recipes or ingredients are given.

Oleh karena itu, berdasarkan paparan di atas dan definisi-definisi mengenai PBM, maka beberapa karakteristik PBM tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Dalam pendekatannya menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa. Guru berperan sebagai fasilitator dan siswa berperan sebagai problem solver (pemecah masalah) sehingga mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk melakukan upaya penyelesaian dari masalah tersebut.
  2. Diawali dengan pengajuan permasalahan berdasarkan situasi kehidupan nyata yang autentik, tidak sederhana dan memungkinkan terdapat berbagai macam metode penyelesaiannya.
  3. Adanya kerja kelompok yang dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan lainnya dalam kelompok kecil untuk memecahkan masalah. Beberapa alasan pentingnya kerja kelompok ini diantaranya adalah kerja kelompok membantu perkembangan komunitas belajar dalam suasana nyaman untuk mengembangkan ide baru dan pertanyaan tentang pokok bahasan,  memperkaya keterampilan komunikasi dan kemampuan manajerial dinamika kelompok, dan membuat ketertarikan serta motivasi bagi para siswa karena mereka berpartisipasi aktif dalam kerja dan dapat memperhitungkan aktivitas mereka sebagai anggota kelompok.
Tahapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Tahapan Pembelajaran
Tingkah Laku Guru
Tahap 1
Orientasi peserta didik pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah, dan mengajukan masalah.
Tahap 2
Mengorganisasi peserta didik
Membagi peserta didik kedalam kelompok, membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah.
Tahap 3
Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok
Mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan, melaksanakan eksperimen dan penyelidikan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil
Membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan laporan, dokumentasi, atau model, dan membantu mereka berbagi tugas dengan sesama temannya.
Tahap 5
Menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah
Membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses dan hasil penyelidikan yang mereka lakukan.





(Ibrahim dan Nur, 2005: 13)

Kelebihan Pembelajaran Berbasis Masalah
Sanjaya (2008: 220-221) mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis masalah (PBM) memiliki beberapa kelebihan, diantaranya:
  1. Merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
  2. Dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
  3. Dapat meningkatakan aktivitas pembelajaran siswa.
  4. Dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
  5. Membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Disamping itu, juga dapat mendorong siswa untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
  6. Dapat memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
  7. Dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
  8. Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
  9. Dapat memberikan kesemnpatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
  10. Mengembangkan minat siswa untuk  secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.

Kelemahan Pembelajaran Berbasis Masalah
  1. Disamping kebihan diatas, Sanjaya (2008: 221) mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis masalah juga memiliki kelemahan, diantaranya:
  2. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencobanya.
  3. Membutuhkan cukup waktu untuk persiapan pembelajaran.
  4. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
oleh: Ade Siti Nurpatonah
 




Read More

Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD

| |
0 comments
Oleh:
Annisa Firdausi

Metode ini di kembangkan oleh Slavin. STAD (Student Teams Achievement Division). Pemilihan model pembelajaran kooperatif tipe students team achievement division (STAD) adalah karena “STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif.” (Slavin, 2003: 143). 


Tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran dengan STAD adalah sebagai berikut :


Tahap Penyajian Materi
Pada tahap ini guru memulai dengan memberikan apersepsi dengan tujuan mengingatkan siswa terhadap materi pra syarat yang telah di pelajari agar siswa dapat menghubungkan materi yang akan disajikan dengan pengetahuan yang dimiliki. Selanjutnya guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Lalu guru menyampaikan materi pelajaran lewat media pembelajaran yang telah disiapkan.

Tahap Kerja Kelompok 
Pada tahap ini setiap siswa diberi lembar tugas sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kelompok ini siswa saling membantu memberikan penyelesaian agar semua anggota kelompok dapat memahami materi yang di bahas, dan satu lembar dikumpulkan sebagai hasil kerja kelompok. Pada tahap ini guru berperan sebagai falitator dan motivator.

Tahap Tes Individu
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar siswa, maka diadakan tes secara individual tentang materi yang telah dibahas. Pada penelitian ini tes individual diadakan setiap selesai pertemuan, selama 10 menit, agar siswa dapat menunjukan apa yang telah dipelajari selama bekerja dalam kelompok. Skor perolehan individu diarsipkan, yang akan digunakan pada perhitungan perolehan skor kelompok.

Tahap Perhitungan Skor Individu
Skor perkembangan individu dihitung berdasarkan skor awal, dalam penelitian ini didasarkan pada nilai evaluasi hasil belajar semester I. Berdasarkan skor awal ini, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya berdasarkan skor tes yang diperolehnya. Perhitungan skor perkembangan individu dimaksudkan agar siswa terpacu untuk memperoleh orienstasi terbaik sesuai dengan kemampuannya. Perhitungan skor perkembangan individu, pada penelitian ini dapat di lihat pada tabel berikut ini: 

Tabel 2.1 
Pedoman Pemberian Skor Perkembangan Individu
No.
Skor Tes
Skor Perkembangan Individu
1.
Lebih          dari      10 poin
dibawah skor awal
0
2.
10  hingga  1  poin  dibawah
skor awal 
10
3.
Skor  awal  sampai  10  poin
di atas skor awal  
20
4.
Lebih  dari  10  poin  di  atas
skor awal
30
5.
Nilai            sempurna (tidak
berdasarkan skor awal)
40

Tahap Penghargaan Kelompok
Perhitungan skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan masing-masing perkembangan skor individu siswa dan hasilnya dibagi sesuai jumlah anggota kelompok. Pemberian penghargaan diberikan berdasarkan perolehan skor rata-rata, yang diketegorikan menjadi kelompok baik, kelompok hebat dan kelompok super. Kriteria yang digunakan untuk menentukan pemberian penghargaan terhadap kelompok adalah sebagai berikut :
1)       Kelompok dengan skor rata-rata 15, sebagai kelompok baik 
2)       Kelompok dengan skor rata-rata 20,sebagai kelompok hebat 
3)       Kelompok dengan skor rata-rata 25, sebagai kelompok super 
Read More

Pendekatan Starter Eksperimen (PSE)

| |
6 comments
Oleh:
Dodi Hermanto



Pada dasarnya pendekatan pembelajaran berkembang saat ini menekankan pada bagaimana membelajarkan siswa secara maksimal sehingga suasana belajar dikelas menjadi kondusif untuk siswa yang pada akhirnya bermuara pada pengkatan prestasi belajar. Salah satu pendekatan yang ada adalah Pendekatan Starter Eksperimen.

Pendekatan Starter Eksperimen (PSE) adalah terjemahan dari “Starter Experiment Approach“, merupakan pendekatan komprensif untuk pengajaran sains, yang mencakup berbagai strategi pembelajaran yang biasanya diterapkan secara terpisah dan berorientasi pada keterampilan proses. Kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan PSE ialah bila kegiatan belajar bisa dilakukan dengan percobaan. PSE mempunyai ciri khusus yaitu mengetengahkan alam lingkungan sebagai penyulut (starter) selanjutnya, pembelajaran dilakukan dengan memperaktekan prinsip-prinsip metode ilmiah meliputi pengamatan, dugaan, desain percobaan, eksperimen dan laporan hasil penelitian.

Menurut Schoenher (1996) metode eksperimen adalah metode yang sesuai untuk pembelajaran sains, karena metode eksperimen mampu memberikan kondisi belajar yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas secara optimal.

Menurut Schoenher unsur-unsur PSE yaitu: 1) Mulai dengan pengamatan lingkungan, 2) memisahkan langkah-langkah penting seperti pengamatan, dugaan awal dan perumusan konsep, 3) bekerja dalam kelompok untuk menentukan langkah-langkah dan pelaksanaannya dalam percobaan pembuktian, 4) menyampaikan gagasan, pendekatan, konsep, dan penerapan, 5) mendefinisikan kembali peranan guru sebagai simulator dan organisator dalam proses belajar, 6) melampaui batas pengetahuan (ingatan) menjadi pemahaman dan 7) memberikan motivasi kepada siswa dan guru matematika.

Menurut Wayan Memes (2000:20) Starter Experiment Approach (SEA) merupakan pendekatan komprehensif untuk pengajaran IPA (Fisika, Biologi, dan Kimia) yang biasanya mencakup berbagai strategi pembelajaran dan diterapkan secara terpisah dan sering tanpa rencana. Pengertian tanpa rencana disini maksudnya adalah bahwa guru masih mencari pengetahuan awal siswa yang dominan untuk menjadikan topik pembahasan di kelas. Pada tahap pengembangan pendekatan ini perhatian dipusatkan pada masalah motivasi intrinsik pada sebagian besar siswa. Selain itu perlu dipertimbangkan segi pragmatis di masyarakat dan masa depan siswa.

Starter Experiment Approach (SEA) sebagai pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada ketrampilan proses dibentuk oleh tujuh unsur yang diawali oleh pengamatan di lingkungan, bekerja dalam kelompok, menyampaikan gagasan strategi konsep, mendefinisikan kembali peran guru sebagai stimulator dan organisator, ditanamkan pengetahuan ingatan menuju pada pemahaman serta memberikan motivasi pada siswa. Pada tahap pengembangan perhatian dipusatkan pada sebagian besar siswa.

Berdasarkan kajian teoritis tersebut bahwa PSE lebih menekankan pada keterampilan proses dalam pembelajarannya. Kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan PSE ialah bila kegiatan belajar bisa dilakukan dengan percobaan. PSE mempunyai ciri khusus yaitu mengetengahkan alam lingkungan sebagai penyulut (starter) selanjutnya, pembelajaran dilakukan dengan memperaktekan prinsip-prinsip metode ilmiah meliputi pengamatan, dugaan, desain percobaan, eksperimen dan laporan hasil penelitian.

Pembelajaran dengan Starter Experiment Approach (SEA) mengikuti langkah-langkah pokok yang telah ditetapkan. Tiap-tiap langkah yang ada mempunyai tujuan yang pasti dan terpusat pada perkembangan proses belajar anak. Adapun langkah-langkah proses pembelajaran SEA menurut Wayan Memes (2000:21) adalah sebagai berikut:

a. Percobaan Awal (Starter experiment)
Percobaan awal ini bertujuan untuk mengubah belajar anak, membangkitkan rasa ingin tahunya, dan menghubungkan konsep yang akan dipelajari dengan alam sekitar. Dengan percobaan awal ini diharapkan siswa termotivasi untuk belajar Fisika sehingga Starter Experiment sedapat mungkin diambil langsung dari alam sekitar yang sedang menggejala.

b. Pengamatan (Observasi)
Pengamatan terhadap obyek merupakan langkah pertama dari siklus IPA (Science Cycle). Mengobservasi atau mengamati tidak sama dengan melihat sehingga dalam pengamatan ini memerlukan suatu kecermatan dan ketelitian dalam memilah-milah mana yang penting dan yang tidak. Pengamatan yang kreatif (tidak iseng/sepele atau trivial) perlu dilatih sedini mungkin karena sangat penting artinya untuk langkah-langkah selanjutnya.

c. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang operasional akan membantu siswa dalam merumuskan dugaan. Berdasarkan data pengamatan dari percobaan awal, masalah dirumuskan sedemikian rupa agar mengarah pada konsep yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran. Masalah hendaknya dirumuskan dengan kata tanya terbuka.

d. Dugaan Sementara
Guru dapat melatih siswa dalam membuat hipotesis dengan cara siswa diberikan kesempatan untuk mengajukan dugaan mereka terhadap masalah yang telah dirumuskan secara bebas. Perumusan dugaan ini sangat membantu siswa untuk mengemukakan pra konsepnya sehingga guru mengetahui pra konsep yang dimiliki oleh para siswa. Penyusunan dugaan adalah salah satu kunci pembuka tabir berbagai penemuan baru.

e. Percobaan Pengujian
Percobaan pengujian disusun untuk membuktikan dugaan sementara dari masalah yang telah dirumuskan. Dalam merancang percobaan pengujian guru perlu memberikan arahan-arahan seperlunya agar percobaan yang dirancang oleh siswa tidak jauh menyimpang.

f. Penyusunan Konsep
Berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh dari percobaan, siswa secara bersama-sama diajak untuk menyusun konsep. Guru dapat membantu siswa dalam menyempurnakan susunan rumusan konsep. Dalam penyusunan konsep kadang-kadang diperlukan kata kunci untuk membantu siswa, tetapi tidak boleh ada pemaksaan dalam penerimaan konsep.

g. Mencatat Pelajaran
Mencatat pelajaran merupakan bagian yang tidak kalah penting bagi siswa karena dengan catatan yang baik, siswa dapat belajar di rumah dengan baik pula. Dengan demikian apa yang diujikan oleh guru kelak dapat terjawab dengan baik oleh siswa.

h. Penerapan Konsep
Hal yang tidak kalah penting dari langkah-langkah SEA adalah penerapan konsep yang telah diperoleh ke dalam berbagai situasi. Kemampuan siswa menerapkan konsep dalam situasi lain merupakan salah satu bentuk evaluasi dari keberhasilan proses pembelajaran yang memberikan indikasi bahwa siswa telah memahami konsep secara komprehensif.

Langkah-langkah Pembelajaran
1. Starter Experiment/Percobaan Awal

Aktivitas Guru
a. Guru meminta siswa untuk mengambil air dan minyak, kemudian tuangkan dalam gelas yang sama dan diaduk.
b. Guru menanyakan kepada siswa apa yang terjadi? Mengapa demikian?

Aktivitas Siswa
a. Siswa melakukan percobaan awal dan bekerja dengan kelompok masing-masing.

Hasil yang diharapkan
1. Siswa dapat melakukan percobaan dengan lebih terampil untuk memperoleh data yang diperlukan. Percobaan awal menarik bagi siswa dan menimbulkan rasa ingin tahu siswa terhadap alat peraga melalui bertanya/berpikir.

2. Pengamatan

Aktivitas Guru
a. Guru mengarahkan siswa untuk melakukan pengamatan secara kelompok tanpa dipengaruhi kelompok lain.

Aktivitas Siswa
a. Siswa melakukan pengamatan secara cermat dan memperlihatkan kerjasama dalam kelompoknya.
b. Siswa mencatat hasil pengamatannya pada LKS secara individu dan tidak harus sama dengan teman lain dalam kelompoknya.

Hasil yang diharapkan
a. Siswa dapat memperoleh data yang diperlukan untuk menyusun konsep yang ingin dicapai dalam pembelajaran.

3. Rumusan Masalah

Aktivitas Guru
a. Guru mengemukakan pertanyaan terbuka untuk mendorong siswa berpikir merumuskan masalah dari hasil pengamatan seperti: mengapa minyak berada di atas?

Aktivitas Siswa
a. Siswa bersama guru merumuskan masalah sedemikian rupa agar mengarah pada konsep yang ingin dicapai dalam pembelajaran.

Hasil yang diharapkan
a. Siswa lebih terampil dalam merumuskan masalah yang mengarah pada dugaan awal yang ingin dicapai.

4. Dugaan Sementara

Aktivitas Guru

a. Guru menampung semua dugaan awal siswa tentang massa jenis zat cair.
b. Guru memilih satu dugaan awal yang mengarah pada terbentuknya konsep yang diharapkan.

Aktivitas Siswa
a. Siswa menuliskan dugaan terhadap masalah yang telah dirumuskan secara bebas berdasarkan hasil pengamatan dan menjelaskan dugaannya.

Hasil yang diharapkan
a. Siswa lebih terampil membuat dugaan awal terhadap masalah yang telah dirumuskan serta mampu menjelaskan.

5. Percobaan Pengujian

Aktivitas Guru
a. Guru membantu siswa menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
b. Guru memberikan kesempatan siswa untuk berkreasi merancang percobaan.

Aktivitas Siswa
a. Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menentukan percobaan pengujian yang akan dilakukan.
b. Siswa melakukan percobaan dan mencatat hasilnya pada LKS.

Hasil yang diharapkan
a. Percobaan pengujian tidak jauh menyimpang.
b. Siswa lebih terampil dalam melakukan percobaan.

6. Penyusunan Konsep

Aktivitas Guru
a. Guru melibatkan semua siswa dalam memperbaiki penyusunan konsep serta menuliskannya di papan tulis.

Aktivitas Siswa
a. Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menyusun konsep.
b. Siswa melaporkan hasil penemuannya secara bergiliran dan menuliskan hasilnya pada papan tulis untuk tiap-tiap kelompok.

Hasil yang diharapkan
a. Siswa lebih terampil dalam konsep.

7. Mencatat Pelajaran
Aktivitas Guru
a. Guru merangkum hasil diskusi kelas.
b. Guru memberikan catatan penting tentang konsep yang didapatkan dari hasil pengamatan siswa dalam melakukan percobaan.

Aktivitas Siswa
a. Siswa mencatat rangkuman yang diberikan guru dengan baik dan merangkum sendiri materi dari buku pelajaran.

Hasil yang diharapkan
a. Dengan catatan yang baik siswa dapat memahami konsep sehingga dapat menjawab soal yang diberikan guru pada akhir pembelajaran

8. Penerapan Konsep

Aktivitas Guru
a. Guru memberikan evaluasi pada siswa untuk mengetahui tingkat pemahaman konsep siswa.

Aktivitas Siswa
a. Siswa mengerjakan soal evaluasi secara individu.

Hasil yang diharapkan
a. Semua soal dapat terjawab oleh sebagian besar siswa.
b. Siswa memahami konsep yang mendasar tentang massa jenis serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Read More

Model Pembelajaran Multidimensional

| |
1 comments
Model pembelajaran merupakan suatu rencana atau pola yang digunakan untuk merancang pembelajaran tatap muka di dalam ruang kelas dan untuk menyusun materi pengajaran (Wiranata, 1992:34). Setiap model pembelajaran akan membantu di dalam merancang program pembelajaran sehingga setiap siswa akan tertolong dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan kamus bahasa Indonesia, multidimensional berasal dari kata multi yang berarti banyak, dan dimensi yang berarti segi atau dimensi. Maka, model pembelajaran multidimensional merupakan suatu model yang  meninjau berbagai segi, baik segi metode pembelajaran ataupun pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran.
Berdasarkan laporan kegiatan piloting jurusan pendidikan fisika (2004) menyatakan bahwa model pembelajaran multidimensional adalah suatu model pembelajaran yang dikembangkan dengan menggunakan beberapa pendekatan pembelajaran yaitu contextual teaching and learning based on constructivism, life skill, mind on and hand on activities.
Model pembelajaran multidimensional merupakan suatu model yang digagas oleh Guru Besar jurusan pendidikan fisika yaitu Prof. Dr. Achmad Hinduan, M.Sc. yang direalisasikan oleh para dosen di lapangan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari salah satu skripsi menyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran multidimensional guru tidak mengkotak-kotakan suatu pembelajaran dalam menyampaikan materi ajar, maksudnya dalam menyampaikan materi ajar tidak harus menggunakan satu metode atau pendekatan tertentu saja (Skipsi Yanti Rahmayanti, 2007).
Proses pembelajaran akan lebih bermakna apabila dikaitkan dengan pengalaman dan aktivitas yang pernah dialami oleh siswa sebelumnya. Keterkaitan kehidupan nyata dalam pembelajaran dimulai dari sesuatu yang dekat dengan siswa dan sesuai dengan kemampuan berfikir siswa. Dengan dikaitkannya dalam kehidupan nyata dalam pembelajaran, diharapkan dalam menjadikan pembelajaran  lebih bermakna dan mudah difahami oleh siswa, baik konsep fisika maupun konsep aplikasinya dalam kehidupan nyata.
Suasana belajar mengajar yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Situasi belajar yang diharapkan adalah siswa yang lebih banyak berperan aktif dalam proses pembelajaran.
Dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran multidimensional, tugas guru didalam kelas adalah membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal ini guru lebih banyak berurusan dengan strategi pembelajaran sehingga pelaksanaan pembelajaran di kelas sesuai dengan karakteristik siswa, bahan ajar dan kondisi lingkungan.

Tahapan-Tahapan Model Pembelajaran Multidimensional
Tahapan-tahapan yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran multidimensional diantaranya :
a.    Pendahuluan, didalamnya terdapat aktivitas apersepsi siswa dan penggalian konsep awal. Metode yang dapat digunakan dalam pendahuluan misalnya dengan menggunakan metode tanya jawab atau dengan metode demonstrasi.
b.    Kegiatan inti, didalamnya terdapat aktivitas konstruktivisme,  inquiry, belajar kelompok, tanya jawab, pemodelan, dan authentic assessment.
c.     Kegiatan penutup, terdapat aktivitas refleksi.

Berdasarkan jurnal yang diperoleh dengan judul “A Multidimensional Approach for Analyzing and Constructing Teaching and Learning Processes about particle models”, yang dikemukakan oleh Silke Seifert, Helmut Fischler, yang menyatakan bahwa pendekatan multidimensional dapat digunakan untuk meneliti proses belajar mengajar dan untuk membangun rencana pembelajaran. Jadi, dengan menggunakan model pembelajaran multidimensional dalam proses belajar mengajar dapat dilihat kelebihan atau kekurangan dari masing-masing model pembelajaran yang ada, sehingga dengan melihat kondisi tersebut diharapkan terwujudnya proses pembelajaran yang lebih baik.
Pengembangan model pembelajaran melalui pendekatan multidimensional yang dilakukan dengan mengembangkan perangkat pembelajaran yaitu berupa rencana pembelajaran yang komponen-komponennya disesuaikan dengan rambu-rambu kurikulum.
Pada prinsipnya, suatu proses pembelajaran akan berjalan secara efektif dan efisien jika sesuai dengan karakteristik anak didik, karakteristik bahan ajar, dan kondisi lingkungan. Hal tersebut mengandung pengertian bahwa suatu model pembelajaran harus dikemas dan dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan dalam melaksanakan pembelajaran. Agar prinsip tersebut sejalan dengan perubahan paradigma pendidikan dari orientasi bidang studi menjadi berorientasi pada life skill dengan competency based training, demikian juga dalam prinsip pembelajaran dari teaching menjadi learning, maka beberapa pemikiran yang digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan model pembelajaran fisika adalah pendekatan contextual teaching and learning based on life skill and hand on activities yang selanjutnya disebut dengan pendekatan mutidimensional (Padri, 2004:1). Untuk memenuhi maksud di atas, berikut ini merupakan petunjuk bagi guru untuk mengajar dalam mengembangkan rencana pembelajaran.

Prinsip dasar dalam mengajar fisika :
1.      Sebagai fasilitator
2.      Mempertimbangkan tahap perkembangan peserta didik. Guru dapat memulai pelajaran dengan memberikan siswa kesempatan, untuk mengamati dan menyelidiki suatu fenomena fisika, yang sebelumnya siswa telah belajar konsep.
3.      Melibatkan siswa, memberikan banyak kesempatan dalam proses inquiry untuk mempelajari fisika.
4.      Mengembangkan kondisi belajar agar siswa memahami konsep, teori, dan prinsip fisika; hubungan antara konsep, prinsip dan teori; dan dapat mempresentasikannya.
5.      Membuat kondisi belajar agar siswa dapat mengembangkan beberapa kemampuan berfikir yaitu kritis, analisis, dan rasional; serta dengan mempelajari dulu proses umum yang diadopsi ahli fisika dalam mempelajari alam.
Langkah-langkah dalam  mengembangkan rencana pembelajaran:
1.      Analisis silabus dan  buku teks.
2.      Mengembangkan tujuan instruksional khusus yang didasari oleh tujuan instruksional umum yang sesuai dengan kurikulum. Guru dapat mempertimbangkan aspek penting dari topik yang akan dipelajari oleh siswa.
3.      Menentukan strategi evaluasi dan instrumen yang tepat untuk mengukur tingkat prestasi secara tepat. Evaluasi dapat mencakup semua bagian aspek dalam prinsip dasar.
4.      Mengembangkan kegiatan belajar mengajar untuk memfasilitasi prestasi yang sesuai. Kegiatan belajar mengajar ditentukan sesuai dengan topik yang bergantung pada lingkungan, karakteristik topik, dan ketepatan yang akan dicapai.
Dengan menerapkan seluruh pemikiran yang ada dalam komponen-komponen contextual teaching ang learning, serta selalu berorietasi pada life skill, mind on and hand on activities diharapkan siswa akan lebih termotivasi untuk terlibat secara aktif dalam setiap proses pembelajaran, sehingga dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja siswa baik secara individu maupun secara kelompok, disamping siswa akan merasa senang belajar fisika yang merupakan modal dasar untuk meningkatkan kualitas dan hasil belajar di sekolah.
Ada beberapa kelebihan yang dimiliki oleh model pembelajaran multidimensional berdasarkan jurnal yang dikemukakan oleh Tarek M. Abdelhamid, M.D, yang berjudul “The Multidimensional Learning Model : A Novel Cognitive Psychology-Based Model For Computer Assisted Instruction in Order to Improve Learning in Medical Student”, diantaranya :
a.    Terbentuknya interaksi dalam pembelajaran (siswa memperoleh informasi berupa jawaban atas permasalahan)
b.    Memberikan motivasi kepada siswa atas penemuan sendiri.
c.    Siswa dapat membagi informasi dengan siswa lain dalam suatu proses pembelajaran.
d.    Mengurangi pembelajaran sistem hafalan.
Dengan beberapa kelebihan atau keunggulan yang dimiliki model pembelajaran multidimensional dalam pembelajaran fisika diharapkan dapat menjadikan sistem pembelajaran menjadi lebih baik. Dengan model pembelajaran multidimensional diharapkan peran aktif siswa dapat muncul dalam proses belajar mengajar. Hal ini karena siswa dituntut untuk melakukan penemuan sendiri berdasarkan informasi yang diperoleh, dan sistem pembelajaran yang sering digunakan siswa seperti sistem hafalan dapat dikurangi. Selain itu, dengan model pembelajaran multidimensional akan terbentuk interaksi dalam pembelajaran baik interaksi yang terjadi antar siswa maupun interaksi antara siswa dengan guru. 
Read More

Model Pembelajaran TTW

| |
8 comments
Menurut W. Gulo (2002:3), strategi belajar mengajar merupakan rancangan dasar bagi seorang guru tentang cara ia membawakan pengajarannya di kelas secara bertanggung jawab. Hal ini merupakan salah satuu komponen dari sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar secara optimal.

Menurut W. Gulo (2002:23), peran peserta didik di dalam proses belajar mengajar ialah berusaha secara aktif untuk mengembangkan dirinya di bawah bimbingan guru. Kegiatan ini disebut kegiatan belajar. Guru hanya menciptakan situasi yang memaksimalkan kegiatan belajar peserta didik. Kegiatan pendidikan mengalami kegagalan kalau kegiatan mengajar tidak menghasilkan kegiatan belajar. Oleh karena itu, fungsi belajar pada peserta didik sangat menentukan keberhasilan pendidikan.

Think-Talk-Write (TTW) yang diperkenalkan oleh Huinker & Laughlin, pada dasarnya dibangun melalui berpikir, berbicara dan menulis. Alur kemajuan TTW dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir/berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara den membagi ide (sharing) dengan temannya sebelum menulis. Dalam hal ini siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran.

Model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) pada dasarnya menggunakan strategi pembelajaran kooperatif sehingga dalam pelaksanaanya, model ini membagi sejumlah siswa kedalam kelompok kecil secara heterogen agar suasana pembelajaran lebih efektif.

Dalam pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan kelompok, maka pembelajaran TTW juga mengacu kepada pembelajaran kooperatif yang dapat mengkonstruksi penguasaan konsep siswa (Dipdip,2007:16). Tahapan-tahapan yang dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran TTW dalam pembelajaran fisika akan diuraikan sebagai berikut:

1) Pikir (Think)

Aktivitas berpikir siswa dapat dilihat pada saat dalam pembelajaran terdapat kegiatan pembelajaran yang memancing siswa untuk memikirkan sebuah permasalahan fisika baik itu kegiatan demonstrasi yang dilakukan oleh guru atau siswa, pengamatan gejala fisis atau berbagai peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. proses membaca buku paket atau handout fisika serta berbagai macam artikel yang berhubungan dengan pokok bahasan. Setelah itu siswa mulai memikirkan solusi dari permasalahan tersebut dengan cara menuliskannya di buku catatan atau handout ataupun mengingat bagian bagian yang difahami serta tidak difahaminya.

2) Bicara (Talk)

Siswa melakukan komunikasi dengan teman sekelompok untuk mendapatkan solusi bersama dari solusi yang telah dipikirkan sebelumnya oleh setiap individu kemudian akan dibahas dalam diskusi kelas. Masing-masing kelompok belajar terdiri dari 5-6 orang.

3) Tulis (Write)

Siswa menuliskan hasil diskusi itu dalam catatannya (buku catatan, handout dan atau LKS) baik berupa definisi istilah maupun kejadian fisis yang terkait dengan persamaan-persamaan fisis.


sumber:
Gulo, W. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo
dll
Read More

Metode Pembelajaran Gasing

| |
2 comments
Oleh :
VICKA AFIANTY R.A


Gasing merupakan akronim dari gampang, asyik dan menyenangkan. Fisika Gasing adalah suatu metode pembelajaran fisika yang diciptakan dan dikembangkan pada tahun 1996 oleh Prof. Yohanes Surya agar fisika dapat dipelajari dan diajarkan secara gampang, asyik dan menyenangkan. Metode Gasing merupakan terobosan reformasi dalam pembelajaran fisika karya anak Bangsa. Metode Gasing mengajarkan bagaimana berfikir seperti seorang fisikawan dalam menyelesaikan soal-soal fisika dengan pendekatan logika dan hampir tanpa rumus, karena metode Gasing ini menggunakan metode logika biasa berdasarkan konsep dasar fisika. Sehingga para guru tidak harus memberikan rumus-rumus yang akan membuat siswa pusing dan benci fisika.



Prof. Yohanes Surya terobsesi membangun Indonesia dengan sains dan teknologi. Caranya, jumlah ilmuwan Indonesia harus mencapai critical massa dan masyarakat Indonesia berbasis sains dan teknologi. Untuk mencapai critical massa, semua alumni Tim Olimpiade Fisika Indonesia dan siswa-siswa berbakat fisika dikirim ke perguruan tinggi terbaik di luar negeri, sedangkan untuk mencapai masyarakat Indonesia berbasis sains dan teknologi, dikembangkan pembelajaran fisika metode Gasing (gampang, asyik, menyenangkan) untuk semua kalangan masyarakat, terutama anak-anak usia sekolah.

Sebenarnya bukan hanya siswa yang takut rumus, tetapi guru juga. Padahal, fisika tidak selalu identik dengan rumus, soal-soalnya bisa dipecahkan dengan logika. Sehingga, siswa tidak perlu menghapalkan rumus-rumus fisika. Siswa cukup memahami cara perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan saja.

Jadi fisika Gasing intinya adalah menyebarkan atau membuat fisika menjadi gampang dan menyenangkan untuk semua kalangan, tidak terbatas untuk kalangan-kalangan yang ber-IQ tinggi saja. Sebagai salah satu contoh adalah tokoh dunia yang sangat terkenal Thomas Alfa Edison. Dalam kehidupan akademisnya Thomas kurang bagus, tetapi beliau bisa menjadi orang nomor satu karena hasil penemuannya.

Dengan adanya fisika Gasing ini Prof. Yohanes Surya berharap agar fisika di Indonesia tidak lagi dianggap pelajaran yang sulit dan menjadi sesuatu yang menakutkan bagi siswa. Justru sebaliknya, siswa yang awalnya benci fisika berbalik menjadi senang fisika. Satu hal yang mengagumkan dari metode ini adalah bahwa fisika tidak lagi sulit, tapi menyenangkan. Selain itu diharapkan anak yang tidak kelihatan pintar bisa kelihatan, dengan kata lain fisika Gasing menjembataninya sehingga fisika yang dulunya merupakan suatu hal yang menyeramkan menjadi tidak menyeramkan dan menyenangkan yaitu dengan cara tidak memperlihatkan rumus-rumus. Jadi metode ini melatih bagaimana mengungkapkan/memecahkan berbagai persoalan fisika dengan logika kata-kata, sementara rumus bisa menyesuaiakan setelahnya.

Selama 13 tahun sambil membina Tim Olimpiade Fisika Indonesia, Prof. Yohanes Surya melakukan penelitian dalam menemukan suatu pembelajaran fisika yang mudah diterima oleh siswa, mudah diajarkan oleh guru serta membuat peserta ajar merasa asyik dan menyenangkan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Yohanes Surya, untuk membuat fisika itu gampang, asyik dan menyenangkan (Gasing) beberapa hal perlu diperhatikan (sebenarnya ini tidak semuanya baru) :

  1. Hindari matematika yang sulit, kalau perlu cari alternatif solusi yang menggunakan matematika lebih sederhana.
  2. Manfaatkan pengertian konsep fisika yang benar dan lebih menekankan pada logika dibandingkan dengan menggunakan rumus-rumus turunan.
  3. Gunakan angka-angka yang mudah dan bulat seperti 1 , 2 , atau 10 ketika sedang mengajarkan konsep melalui berbagai contoh soal. Hindari angka-angka koma atau pecahan agar konsentrasi siswa tidak disimpangkan dari solusi fisika ke solusi matematika.
  4. Perbanyak dialog langsung dengan siswa terutama tentang konsep-konsep fisika yang baru diajarkan. Minta mereka mengeluarkan pendapatnya untuk menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan konsep yang diberikan.
  5. Perbanyak eksperimen dan demonstrasi fisika sehingga tiap murid menikmati asyiknya fisika dan mereka bisa merasakan bahwa fisika itu sungguh menyenangkan.
Pelaksanaan metode pembelajaran Gasing dapat dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu :

1. Tahap pertama : Dialog Sederhana
Dialog merupakan bentuk komunikasi dua arah, dalam hal ini yang terlibat adalah guru dan siswa. Menurut teori belajar connectionisme atau bond hypothesis yang dikemukakan oleh Thorndike (S. Nasution, 2000:37), belajar adalah pembentukan atau penguatan hubungan antara S (stimulus) dan R (respon) sehingga antara S dan R terjadi suatu hubungan (bond) yang bertambah erat bila sering dilatih. Berkat latihan hubungan antara S dan R harus memberikan ”satisfaction” atau kepuasan. Rasa kepuasan merupakan reinforcement atau penguat. Tentang hubungan S dan R, Thondike menemukan bermacam-macam hukum atau laws. Beberapa di antaranya adalah :

(1) Law of effect
Hubungan S dan R bertambah erat kalau disertai oleh perasaan senang atau puas, akan tetapi menjadi lemah atau lenyap kalau disertai oleh rasa tidak senang. Rasa senang menyebabkan sekresi hormon pada sinapsis, sehingga hubungan menjadi lancar. Karena itu memuji dan membesarkan hati siswa (rasa senang) lebih baik dalam pengajaran daripada menghukum atau mencelanya (rasa tidak senang).

(2) Law of exercise atau law of use and law of disuse (hukum latihan atau hukum penggunaan dan penidakgunaan)
Hubungan S dan R bertambah erat kalau sering dilatih (exercise) atau digunakan (use) dan akan berkurang erat kalau lenyap atau tidak pernah digunakan (disuse). Karena itu perlu diadakan banyak latihan dan pembiasaan.

(3) Law of multiple response (hukum respon berganda)
Dalam situasi yang problematis dimana tidak segera tampak respons yang tepat, individu mengadakan bermacam-macam percobaan yang mula-mula tidak berhasil, akan tetapi akhirnya mungkin memberi jawaban yang tepat. Prosedur ini disebut “trial-and-error”, mencoba-coba sambil berbuat kekeliruan.

(4) Law of assimilation atau law of analogy (hukum asimilasi atau hukum analogi)
Seorang dapat menyesuaikan diri atau memberi respon yang sesuai dengan situasi baru yang agak berlainan dengan yang sudah-sudah namun mengandung unsur-unsur yang bersamaan (identical element).

2. Tahap kedua : Berimajinasi/berfantasi.
Sebenarnya imajinasi/fantasi dalam proses pendidikan penting untuk dimiliki siswa, tapi aspek ini banyak diabaikan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Imajinasi penting karena dengan imajinasi siswa akan bisa melahirkan sebuah konsep, kreativitas, inovasi dan perilaku yang aktual dalam kehidupannya. Imajinasi lebih utama daripada pengetahuan. Pengetahuan bersifat terbatas. Imajinasi melingkupi dunia. (Albert Einstein). Imajinasi lahir dari lingkungan yang mendukung seseorang agar memikirkan berbagai fenomena disekitarnya. Jika masyarakat sekitar atau keluarga di rumah tidak menghargai kebebasan berpikir maka daya imajinasi sulit untuk berkembang. Hampir semua fisikawan terkenal adalah orang-orang yang suka berimajinasi dan seringkali dikatakan sebagai pemikir "radikal" karena dianggap aneh oleh lingkungan yang seringkali bersifat dogmatis. Einstein adalah contoh populer dari orang yang suka berimajinasi dan mengembangkannya. Ia membayangkan bagaimana seandainya ia dapat bergerak dengan kecepatan cahaya. Pemikiran aneh ini menghasilkan teori relativitas khusus yang sampai kini masih digunakan. Hal yang sama dilakukan oleh Newton. Kalau saja ia tidak suka melamun dibawah pohon apel mungkin hukum gravitasi universalnya tidak ditemukan sampai berpuluh-puluh tahun kemudian.

Fantasi menurut Suryabrata (2001:39) dapat didefinisikan sebagai aktivitas imajinasi untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan-tanggapan lama yang telah ada, dan tanggapan yang baru itu tidak harus sama atau sesuai dengan benda-benda yang ada. Dengan demikian imajinasi/fantasi itu dilukiskan sebagai fungsi yang memungkinkan siswa untuk berorientasi dalam alam imajinir, dimana aktivitas imajinasi itu melampaui dunia nyata. Kegunaan imajinasi/fantasi antara lain :

(1) siswa dapat memahami, mengerti dan menghargai kultur siswa lain.
(2) siswa dapat keluar dari ruang dan waktu, sehingga dengan demikian ia dapat memahami hal-hal yang ada dan terjadi di tempat lain dan diwaktu yang lain, misalnya dalam mempelajari gerak suatu benda.
(3) siswa dapat melepaskan diri dari kesukaran dan permasalahan dalam belajar fisika.
(4) membantu siswa menyelesaikan konflik riil secara imajinir, sehingga dapat mengurangi ketegangan psikis dalam belajar fisika.

3. Tahap ketiga : Menyajikan contoh-contoh soal secara relevan.
Latihan atau training, merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Cara ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan siswa dengan tujuan untuk memperkuat penguasaan matematika siswa. Dalam latihan ini, siswa hanya berlatih dengan menggunakan logika matematika yang sederhana yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.

4. Tahap keempat : Menyajikan materi secara mendalam.
Dengan memberikan makna fisis terhadap setiap besaran-besaran fisika, diharapkan siswa mengetahui fenomena-fenomena apa saja yang dialami oleh setiap objek dalam butir soal.

5. Tahap kelima : Memberikan variasi soal.
Tugas atau resitasi, merupakan suatu cara menyajikan bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu berupa variasi soal agar siswa melakukan kegiatan belajar, kemudian harus dipertanggungjawabkannya. Tugas yang diberikan oleh guru dapat memperdalam bahan pelajaran, dan dapat pula mengecek bahan yang telah dipelajari. Tugas dapat merangsang siswa untuk aktif belajar baik secara individual maupun kelompok.

Kelima tahapan yang dilakukan dalam metode pembelajaran Gasing ini selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tahap-Tahap
Aktivitas Guru
Tahap 1
Dialog sederhana
Guru memulai pembelajaran dengan berdialog secara sederhana dengan siswa seputar materi yang akan dipelajari. Dari dialog ini diharapkan siswa dapat memberikan pendapatnya, sehingga timbul hubungan yang erat antara S dan R.
Tahap 2
Berimajinasi/berfantasi
Guru membantu siswa untuk berimajinasi mengenai kejadian-kejadian yang berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari.
Tahap 3
Menyajikan contoh-contoh soal secara relevan
Guru memberikan latihan berupa soal-soal sederhana yang hanya menggunakan formulasi matematika berupa perjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Hal ini bertujuan untuk memperkuat penguasaan matematika siswa.
Tahap 4
Menyajikan materi secara mendalam
Guru memberikan makna fisis setelah siswa dirasa mampu mengerjakan semua soal-soal sederhana tadi.
Tahap 5
Memberikan variasi soal
Guru kembali memberikan soal namun yang lebih bervariasi, soal tersebut dapat berupa soal cerita.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Pembelajaran Gasing
Sebagaimana kita ketahui bahwa tidak ada satupun metode pembelajaran yang benar-benar sempurna, pasti terdapat kelebihan dan kekurangan. Berikut ini merupakan kelebihan dan kekurangan metode pembelajaran Gasing.

Kelebihan
Kekurangan
·     Membuat fisika menjadi lebih gampang, asyik dan menyenangkan karena dalam mengerjakan soal-soal fisika tidak harus menghafalkan rumus fisika.
·     Pada saat ulangan berupa soal essai, jika siswa tidak menyertakan penghitungan dengan rumus, meski hasil jawabannya benar akan tetap dinyatakan salah.
·     Waktu yang digunakan lebih efektif dan efisien, karena apabila menggunakan rumus konvensional, soal-soal fisika  umumnya baru dapat diselesaikan oleh siswa dalam waktu yang cukup lama. Tapi dengan metode Gasing, siswa dapat menyelesaikan soal-soal dalam waktu relatif lebih cepat.
·     Secara umum metode Gasing belum bisa diterapkan untuk menyelesaikan soal-soal fisika di perguruan tinggi, karena umumnya mahasiswa dituntut untuk bisa menurunkan berbagai rumus.
Sumber:

Adiputro, Didiet. 2008. Olimpiade Fisika: Dari Potensi Menjadi Prestasi. [Online].  Tersedia: kipsaint.com/isi/merubah-potensi-menjadi-prestasi.html (17 Juni 2008)
Djamarah, Syaiful Bahri, & Aswan Zain. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Fisika, Budak. 2009. Fisika Lebih Menyenangkan dengan Imajinasi. [Online]. Tersedia: http://budakfisika.blogspot.com/2009/01/fisika-lebih-menyenangkan-dengan.html
Heri. 2009. Belajar Fisika Gampang, Asyik dan Menyenangkan. [Online]. Tersedia: fisikakristoforus.blogspot.com (23 Desember 2008)
Nasution, S. 2000. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Nurahman, Arif. 2009. Fisika GASING "Nggak" Pusing. [Online].
         Tersedia: http://www.banjar-jabar.go.id/redesign//?pilih=lihat&id=882 (18 Maret 2009)
Sagala, Syaiful. 2008. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Read More