Showing posts with label Eksperimen Fisika. Show all posts
Showing posts with label Eksperimen Fisika. Show all posts
Percobaan Celah Ganda
Percobaan celah ganda merupakan eksperimen berupa pancaran berkas cahaya yang dibuat berdifraksi melalui dua celah, menciptakan "fringe" atau pola seperti-gelombang di layar. Fringe ini atau gangguan memiliki bagian terang dan gelap sesuai dengan cahaya yang mengalami gangguan membangun dan merusak. Ekspeimen ini dapat juga dilakukan dengan pancaran elektron atau atom, menunjukan gangguan yang mirip; Ini diambil sebagai bukti dari dualitas gelombang-partikel dijelaskan dalam fisika kuantum.
Untuk lebih memahaminya lihat video berikut ini!
Read More
Untuk lebih memahaminya lihat video berikut ini!
Percobaan Hukum Hooke
Tujuan
Menentukan hubungan anatara gaya yang bekerja pada pegas dan perpanjangan pegas
Dasar Teori
Bila sebuah benda diregangakan oleh gaya, maka panjang benda akan bertambah. Panjang atau pendeknya pertambahan panjang benda tergantung pada elastisitas bahan dari benda tersebut dan juga gaya yang diberikannya. Apabila benda masih berada dalam keadaan elastis ( batas elastisitasnya belm dilampaui), beradasarkan hukum Hooke pertambahan panjang
sebanding dengan besar gaya F yang meregangkan benda. Asas ini berlaku juga bagi pegas heliks, selama batas elastisitas pegas tidak terlampaui.

Alat dan Bahan
1. Dasar Statif (1 buah)
2. Batang Statif, 500 mm (1 buah)
3. Batang statif, 250 mm (1 buah)
4. Bosshead, universal (1 buah)
5. Beban bercelah dan bergantung (1 buah)
6. Pasak pemikul (1 buah)
7. Pegas helik, 25N/m (1 buah)
8. Mistar (1 buah)
Langkah Percobaan
1.Susun alat percobaan seperti yang terlihat pada gambar berikut:
2. Gantung satu beban
pada ujung bawah pegas. Nilai ini adalah berat awal untuk pegas. Catat dalam tabel pengamatan.
3. Ukur panjang awal pegas
. Agar tidak membingungkan, ukur panjang pegas dari suatu titik tetap teratas (misalnya tepi pasak pemikul) ke suatu titik tetap terbawah (misalnya ujung bawah pegas). Catat dalam tebel pengamatan.
4. Tambahkan satu beban pada beban awal tadi dan ukur panjang pegas l seperti pada langkah percobaan ke 3. Catat berat total beban (w) dan panjang (l) pada tebel pengamatan)
5. Ulangi langkah langkah perobaan ke-4 dan lengkapi tabel data pengamatan berikut ini!
6. Buat grafik)
7. Bagaimana bentuk grafik yang dihasilkan? Kemiringan garis pada grafik tersebut menunjukan apa? Berapa konstanta pegas berdasarkan eksperimen tersebut? Bandingkan hasilnya dengan literatur
8. berikan kesimpulan anda
Read More
Menentukan hubungan anatara gaya yang bekerja pada pegas dan perpanjangan pegas
Dasar Teori
Bila sebuah benda diregangakan oleh gaya, maka panjang benda akan bertambah. Panjang atau pendeknya pertambahan panjang benda tergantung pada elastisitas bahan dari benda tersebut dan juga gaya yang diberikannya. Apabila benda masih berada dalam keadaan elastis ( batas elastisitasnya belm dilampaui), beradasarkan hukum Hooke pertambahan panjang
Alat dan Bahan
1. Dasar Statif (1 buah)
2. Batang Statif, 500 mm (1 buah)
3. Batang statif, 250 mm (1 buah)
4. Bosshead, universal (1 buah)
5. Beban bercelah dan bergantung (1 buah)
6. Pasak pemikul (1 buah)
7. Pegas helik, 25N/m (1 buah)
8. Mistar (1 buah)
Langkah Percobaan
1.Susun alat percobaan seperti yang terlihat pada gambar berikut:
2. Gantung satu beban
3. Ukur panjang awal pegas
4. Tambahkan satu beban pada beban awal tadi dan ukur panjang pegas l seperti pada langkah percobaan ke 3. Catat berat total beban (w) dan panjang (l) pada tebel pengamatan)
5. Ulangi langkah langkah perobaan ke-4 dan lengkapi tabel data pengamatan berikut ini!
6. Buat grafik
7. Bagaimana bentuk grafik yang dihasilkan? Kemiringan garis pada grafik tersebut menunjukan apa? Berapa konstanta pegas berdasarkan eksperimen tersebut? Bandingkan hasilnya dengan literatur
8. berikan kesimpulan anda
Pembiasan cahaya pada lensa cembung
Tujuan: untuk memahami sifat-sifat pembiasan pada lensa cembung
Teori
Lensa adalah benda tembus cahaya yang dibatasi dua permukaan lengkung atau salah satu lengkung yang lainnya datar. Permukaan lengkung biasanya berbentuk sferis. Tiap permukaan lengkung memiliki pusat kelengkungan lensa. Bila lensa memiliki dua permukaan lengkung maka lensa tersebut memiliki dua pusat kelengkungan kecuali untuk lensa dengan salah satu permukaan datar. Garis yang melewati pusat kelengkungan lensa disebut sumbu utama lensa. Untuk lensa plan-konveks sumbu utama adalah garis yang melewati pusat kelengkungan lensa dan tegak lurus permukaan datar lensa. Garis lain yang melewati pusat lensa disebut sumbu bantu atau sumbu sekunder.
Alat dan Bahan
Kotak cahaya
Catu daya
Kertas putih A4
Model lensa setengah lingkaran
Diafragma 1 dan 3 celah
Kabel penghubung
Model lensa datar-cekung
Penggaris
Langkah-langkah percobaan
Letakaan lensa plan-konveks di atas kertas kemudian gambarlah bentuk lensa tersebut dengan cara menjiplak permukaan lensa tersenut.
Gambarlah sumbu utama.
Gunakam kotak cahaya untuk menghasilkan 3 sinar sejajar dengan memasukkan diafragma 3 celah pada pemegang celah kotak cahaya dan hubungkan ke catu daya.
Arahkan sinar pada model lensa plan-konveks sedemikian sehingga sinar sejajar dengan sumbu utama dan sinar kedua berimpit dengan sumbu utama.
Perhatikan berkas sinar sebelum dan sesudah dibiaskan oleh lensa.
Tandai kemudian gambarlah posisi lensa dan berkas sinar sebelum dan setelah melewati lensa.
Apakah sinar yang melewati lena mengumpul atau menyebar ke satu titik?
Titik dimana sinar sejajar sumbu utama mengumpul atau terlihat berasal dari titik tersebut dinamakan titik focus lensa. Jarak antara pusat lensa dan titik focus disebut jarak focus lensa.
Jika sinar mengumpul pada satu titik, titik focus dinamakan titik folus nyata. Jika sinar bias seolah-seolah berasal dari satu titik, titik focus ini disebut titik focus maya.
Berilah label pada titik focus dengan huruf F.
Berilah tanda pada pusat lensa dengan huruf O.
Ukurlah jarak OF kemudian tuliskan pada tabel di bawah ini.
Ulangi langkah 5 sampai 9 dengan menggunakan dua lensa plan-konveks dan lensa setengah lingkaran.
| Lensa | Jarak focus |
| Lensa plan-konveks | |
| Lensa bikonveks (dua lensa plan-konveks saling membelakangi) | |
| Model lensa setengah lingkaran |
Lihat artikel sebelumnya tentang "Pembiasan cahaya pada lensa cembung"
Pembiasan pada bidang batas udara ke kaca
Tujuan : untuk menghitung indeks bias kaca
Alat dan bahan
Kotak cahaya
Diafragma celah tunggal
Catu daya
Kertas A4
Kaca planparalel
Kabel penghubung
Penggaris
Busur derajat
Langkah-langkah percobaanSiapkan sehelai kertas A4, kemudian buat dua garis tegak lurus di tengah-tengah kertas.
Buatlah garis-garis dengan sudut 200, 300 , 400 , 500 , 600 dengan garis sumbu PQ pada kertas itu.
Letakkan kaca planparalel seperti pada gambar. Buatlah titik tengah permukaan dengan kaca dengan titik Q yaitu titik potong kedua garis pada kertas atau titik O dan gambar kaca planparalel tersebut dengan menjiplak permukaannya di atas kertas.
Gunakan kotak cahaya untuk sinar sejajar yakni dengan memasukkan diafragma celah tunggal pada pemegang celah diafragma. Letakkan seperti pada gambar dan pilih tegangan keluaran catu daya 12 V.
Ubahlah kedudukan kotak cahaya dengan memutarnya sampaisinar datang berimpit dengan garis yang memiliki kemiringan 200 terhadap PO, sehingga membuat sudut datang sama dengan 200.
Buatlah garis normal pada titik sinar datang kedua (permukaan belakang kaca) kemudian beri tanda dengan huruf "n". kemudian buatlah dua buah tanda pada sinar bias di luar kaca untuk menunjukkan arah sinar bias.
Gambarlag garis luar kaca kemudian pindahkan kaca.
Gambarlah garis bias di belakang kaca menggunakan tanda yang telah dibuat.
Ukurlah sudut bias r1, sudut datang pada permukaan kedua i2 , dan sudut bias pada permukaan luar r2 (lihat gambar berikutnya). Tulis hasilnya pada kolom di bawah ini.
Ulangi langkah 5 sampai 9 untuk sudut datang (i2) yang berbeda.
| i1 | r1 | i2 | r2 | sin i1 | sin r1 | sin i2 | sin r2 | sin i1 / sin r1 | sin i2 / sin r2 |
| 200 | |||||||||
| 300 | |||||||||
| 400 | |||||||||
| 500 | |||||||||
| 600 |
sin i1 / sin r1 disebut indeks bias medium dimana sinar dibiaskan relative terhadap medium sumber sinar berasal.
Percobaan Hukum Ohm
Tujuan Percobaan
Mempelajari hubungan antara tegagan dan kuat arus yang mengalir dalam sebuah rangkaian.
Dasar Teori
Dalam arus listrik terdapat hambatan listrik yang menentukan besar kecilnya arus listrik. Semakin besar hambatan listrik, semakin kecil kuat arusnya, dan sebaliknya. George Simon Ohm (1787-1854), melalui eksperimennya menyimpulkan bahwa arus I pada kawat penghantar sebanding dengan beda potensial Vyang diberikan ke ujung-ujung kawat penghantar tersebut:
Besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar tidak hanya bergantung pada tegangan, tetapi juga pada hambatan yang dimiliki kawat terhadap aliran elektron. Kuat arus listrik berbanding terbalik dengan hambatan:
Dengan demikian, arus I yang mengalir berbanding lurus dengan beda potensial antara ujung-ujung penghantar dan berbanding terbalik dengan hambatannya.
Pernyataan ini dikenal dengan Hukum Ohm, dan dinyatakan dengan persamaan:
Diagram hukum Ohm:
Alat dan Bahan yang Diperlukan
1. Voltmeter 10V DC, 1 buah
2. Amperemeter 100mA, 1 buah
3. Kabel penghubung merah, 3 buah
4. Kabel penghubung hitam, 3 buah
5. Hambatan tetap 100
atau bisa juga diganti dengan lampu yang sesuai. (1 buah)
6. Papan rangkaian
7. Potensiometer 50
atau bisa juga menggunakan rheostat (hambatan geser) (1buah)
8. Saklar satu kutub (1 buah)
9. Jembatan penghubung (1 buah)
10. Catu Daya (1 buah)
11. Baterai (cadangan, 3 buah)
Langkah-langkah Percobaan
1. Persiapkan peralatan / komponen sesuai dengan daftar di atas.
2. Buat rangkaian seperti pada gambar berikut:
Perlu diperhatikan:
# saklar dalam posisi terbuka (posisi 0)
# Hubungkan catu day ke sumber tegangan. Catu daya harus masih dalam keadaan off. Pilih tegagan keluaran 3 volt DC
# Hubungkan rangkaian ke catu daya (gunakan kabel penghubung)
3. Hidupkan catu daya (on) kemudian tutup saklar S.
4. Atur Rheostat atau potensiometer sehingga voltmeter menunjukan tegangan sekitar 2 volt, kemudian baca kuat arus yang mengalir pada amperemeter dan catat hasilnya ke dalam tabel hasil pengamatan.
5. Atur lagi potensiometer sehingga voltmeter menunjukan tegangan sedikit lebih tinggi dari 2 volt, baca kuat arus pada amperemeter dan catat hasilnya ke dalam tabel hasil pengamatan.
6. Ulangi langkah 5 sebanyak 3 kali.
7. Buatlah grafik V sebagai fungsi dari I.
8. Bagaimana bentuk grafiknya?
9. Apa kesimpulan anda?
Read More
Mempelajari hubungan antara tegagan dan kuat arus yang mengalir dalam sebuah rangkaian.
Dasar Teori
Dalam arus listrik terdapat hambatan listrik yang menentukan besar kecilnya arus listrik. Semakin besar hambatan listrik, semakin kecil kuat arusnya, dan sebaliknya. George Simon Ohm (1787-1854), melalui eksperimennya menyimpulkan bahwa arus I pada kawat penghantar sebanding dengan beda potensial Vyang diberikan ke ujung-ujung kawat penghantar tersebut:
Besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar tidak hanya bergantung pada tegangan, tetapi juga pada hambatan yang dimiliki kawat terhadap aliran elektron. Kuat arus listrik berbanding terbalik dengan hambatan:
Dengan demikian, arus I yang mengalir berbanding lurus dengan beda potensial antara ujung-ujung penghantar dan berbanding terbalik dengan hambatannya.
Pernyataan ini dikenal dengan Hukum Ohm, dan dinyatakan dengan persamaan:
Diagram hukum Ohm:
Alat dan Bahan yang Diperlukan
1. Voltmeter 10V DC, 1 buah
2. Amperemeter 100mA, 1 buah
3. Kabel penghubung merah, 3 buah
4. Kabel penghubung hitam, 3 buah
5. Hambatan tetap 100
6. Papan rangkaian
7. Potensiometer 50
8. Saklar satu kutub (1 buah)
9. Jembatan penghubung (1 buah)
10. Catu Daya (1 buah)
11. Baterai (cadangan, 3 buah)
Langkah-langkah Percobaan
1. Persiapkan peralatan / komponen sesuai dengan daftar di atas.
2. Buat rangkaian seperti pada gambar berikut:
Perlu diperhatikan:
# saklar dalam posisi terbuka (posisi 0)
# Hubungkan catu day ke sumber tegangan. Catu daya harus masih dalam keadaan off. Pilih tegagan keluaran 3 volt DC
# Hubungkan rangkaian ke catu daya (gunakan kabel penghubung)
3. Hidupkan catu daya (on) kemudian tutup saklar S.
4. Atur Rheostat atau potensiometer sehingga voltmeter menunjukan tegangan sekitar 2 volt, kemudian baca kuat arus yang mengalir pada amperemeter dan catat hasilnya ke dalam tabel hasil pengamatan.
5. Atur lagi potensiometer sehingga voltmeter menunjukan tegangan sedikit lebih tinggi dari 2 volt, baca kuat arus pada amperemeter dan catat hasilnya ke dalam tabel hasil pengamatan.
6. Ulangi langkah 5 sebanyak 3 kali.
7. Buatlah grafik V sebagai fungsi dari I.
8. Bagaimana bentuk grafiknya?
9. Apa kesimpulan anda?
Telor Ajaib...
Baru jadi telor aja minumnya banyak banget..! Apalagi kalau sudah jadi ayam ya..
Subscribe to:
Posts (Atom)
















